Senin, 22 Maret 2021

HUMANISME EROPA UTARA

 


Mendekati akhir abad ke-15 perkembangan lain terjadi di Eropa Utara dalam bentuk masuknya pengaruh humanisme melalui para pedagang, imam Katolik, para dosen dan mahasiswa universitas dalam hal tradisi oratori lisan.  Sebelum hal itu terjadi, Eropa Utara tidak memiliki tradisi sebagaimana yang berlaku di Italia.   Dengan demikian, gagasan-gagasan humanistik pada umumnya menyebar luas dari Italia ke Eropa Utara.  Meskipun pengaruh datang dari Utara melalui berbagai profesi, akan tetapi bukan berarti Eropa Utara sama sekali tidak tersentuh oleh humanisme.  Sebab terdapat pula sedikit humanis Eropa Utara yang menjadi humanis karena mereka, guru-gurunya, pernah studi di Italia dan kembali ke negara mereka dengan semangat untuk menyebarkan ‘pendidikan yang baik’ (good learning) dari negara Eropa Selatan tersebut.  Akibat dari penyebaran tersebut lahirlah humanis-humanis terkenal di Eropa Utara, seperti Robert Gaguin  (1423-1501) di Prancis, Conrad Celtis (1459-1508) di Jerman, dan Thomas Linacre (1460-1524) dan William latimer (1460-1545) di Inggris, Desiderius Erasmus dari Rotterdam (1467-1536) serta Antonio de Nebrija (1444-1522) di Spanyol . Mereka disebut para humanis Kristen sebab mereka memandang studi humanistik sebagai bagian esensial dari  pembaruan religius dan memusatkan diri pada karya-karya “kafir” maupun Kristen kuno sebagai sumber inspirasi.  Di antara para humanis tersebut di atas, Erasmus-lah yang paling terkenal.

Erasmus adalah salah seorang pelopor humanisme yang telah melakukan reformasi keagamaan dalam menghadapi eksklusivitas dan monopoli para elit gereja. Dia berjuang keras untuk menghapus peranan para penguasa gereja sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. Dia mengatakan “jalan itu mudah dan terbuka untuk siapa saja. Bekal perjalanan kalian hanya jiwa yang bersih dan lapang serta adanya keimanan yang cemerlang dan murni dalam hati kalian”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar